TERBARU :
السلام عليكم ورحمة الله تعالى وبركاته# بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه التصوف الإسلامي هو مقام الإحسان الذي قال عنه رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراكِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيَّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةٍ تُنْجِينَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الْمِحَنِ وَالإِحَنِ وَالأَهْوَالِ وَالْبَلِيَّاتِ وَتُسَلِّمُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الْفِتَنِ وَالأَسْقَامِ وَالآفَاتِ وَالْعَاهَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الْعُيُوبِ وَالسَّيِّئَاتِ وَالآفَاتِ وَالْعَاهَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعَ الْخَطِيئَاتِ وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ مَا نَطْلُبُهُ مِنَ الْحَاجَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ يَا رَبِّ يَا الله يَا مُجِيبَ الدَّعَوَاتِ.... " اهـ . [ من صلوات العارف الرباني الإمام الغوث الصمداني عبد القادر الجيلاني - رضي الله تعالى عنه، في كتاب " أفضل الصلوات على سيد السادات" للعارف الرباني القاضي يوسف النبهاني - رضي الله تعالى عنه و عـلـيـكـم الـســلام و رحـمـة الله تـعـالـى و بـركـاتـه

ARSIP BLOG

MENU UTAMA

KISAH KANG ANWAR

TASAWUF

MUNAJAT ILAHY

Tampilkan postingan dengan label ETIKA DAN AKHLAQUL KARIMAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ETIKA DAN AKHLAQUL KARIMAH. Tampilkan semua postingan

CABANG-CABANG IMAN

03 Januari 2013

Ibaratnya Iman adalah sebuah pohon yang ada akar,
batang pohon cabang-cabang dahan dan buah 
Alhamdulillah, diawal tahun 2013 ini, marilah kita muhasabah kembali tentang keimanan kita.  Iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan dan perbuatan dengan anggota tubuh
Iman itu bercabang-cabang dan bertingkat-tingkat. Diantaranya jika ditinggalkan dapat menjadikan kafir, ada pula yang menyebabkannya berdosa, baik dosa besar maupun kecil, dan ada pula yang jika ditinggalkan akan kehilangan ganjaran dan pahala yang berlipat.

Iman itu akan bertambah dengan ketaatan hingga dapat mencapai kesempurnaannya dan akan berkurang dengan kemaksiatan hingga bisa hilang sama sekali, tak tersisa sedikitpun.

Oleh karena itu, amalan lahir merupakan konsekuensi dan kebutuhan iman yang menunjukkan pembenaran terhadap apa yang ada di dalam hati, sebagai dalil (petunjuk) dan syahid (saksi) atasnya. Amalan lahir juga merupakan cabang dari kumpulan keimanan yang mutlak serta merupakan bagian darinya. Akan tetapi yang bersemayam di dalam hatilah yang merupakan pokok dari amal perbuatan anggota tubuh.”

Sabda Nabi Muhammad saw :
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً ، اَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَدْنَاهَا اِمَاطَةُ الاَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيْمَانِ رَوَاهُ الْمُحَدِّثُوْنَ

Rasulullah saw bersabda: "Iman itu 77 cabangnya. Yang paling utama dari cabang-cabang tersebut adalah mengucapkan "La ilaha illallah" (tiada Tuhan melainkan Allah) dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan. Malu (berbuat maksiat) adalah satu cabang dari iman." H.R. Para Ahli Hadits.

Orang-orang yang mencoba menghitung semua cabang tersebut tidak menemukan suatu kesepakatan, tetapi yang mendekati kebenaran adalah metode yang dikemukakan oleh Ibnu Hibban. Namun hal itu tidak menjelaskannya secara rinci, hanya telah diringkas oleh para ahli ‘ilmu bahwa iman terbagi menjadi beberapa cabang, yaitu:
• Perbuatan hati, termasuk keyakinan dan niat. Prilaku hati ini mencakup 24 cabang. Yaitu:
1. Iman kepada dzat, sifat, keEsaan dan keKekalan Alloh
2. Iman kepada malaikat
3. Iman kepada kitab-kitab
4. Iman kepada Rosul
5. Iman kepada Qodho dan Qodar
6. Iman kepada hari akhir
7. Iman kepada adanya alam kubur
8. Iman kepada adanya hari kebangkitan
9. Iman kepada adanya pengumpulan manusia di padang mahsyar
10. Iman kepada adanya hari perhitungan
11. Iman kepada adanya perhitungan pahala dan dosa
12. Iman kepada adanya surga dan neraka
13. Kecintaan kepada Alloh
14. Kecintaan kepada sesama
15. Kecintaan kepada nabi dan keyakinan akan kebesarannya
16. Sholawat kepada nabi dan melaksanakan sunnah
17. Keihklasan hati meninggalkan riba
18. Keihklasan hati meninggalkan kemunafikan
19. Keihklasan hati melakukan tobat dengan rasa takut dan harap
20. Keihklasan hati dalam bersyukur
21. Amanah
22. Sabar, ridho terhadap qodho dan qodar serta bertawakkal
23. Ramah dan rendah hati
24. Meninggalkan kesombongan, iri, dengki dan amarah
• Perbuatan lisan yang mencakup 7 cabang keimanan yaitu:
25. Melafalkan Tauhid (Mengesakan Alloh)
26. Membaca Al-Qur’an
27. Mempelajari ‘ilmu
28. Mengajarkan ‘ilmu
29. berdo’a
30. berdzikir dan istighfar (mohon ampunan)
31. Menjauhi perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat
• Perbuatan jasmani yang mencakup 38 cabang iman, dengan rincian sebagai berikut,
yang Berkenaan dengan badan ada 15 cabang iman,
yaitu:
32. Bersuci dan menjauhi segala hal yang najis
33. Menutup aurat
34. Sholat wajib dan sunnah
35. Membayar zakat
36. Membebaskan budak
37. Dermawan (termasuk member makan dan menghormati tamu)
38. Puasa wajib dan sunnah
39. Melakukan Haji
40. Melakukan Umroh
41. Melakukan Thawaf
42. Melakukan I’tikaf
43. Mengupayakan malam qadar (Lailatul Qadar)
44. Mempertahankan agama seperti hijrah dari daerah syirik
45. Melaksanakan nadzar
46. Melaksanakan kafarat
- Berkenaan dengan orang lain ada 6 cabang iman, yaitu:
47. Iffah (Menjaga kesucian diri) dengan menikah
48. Menunaikan hak anak dan keluarga
49. Berbakti kepada orangtua
50. Mendidik anak
51. Silaturrahim
52. Taat kepada pemimpin (atasan) dan berlemah lembut kepada pembantu (bawahan)
- Berkenaan dengan kemaslahatan umum ada 17 cabang iman, yaitu:
53. Berlaku adil dalam memimpin
54. Mengikuti kelompok mayoritas
55. Taat kepada pemimpin (‘Umaro dan “ulama) dalam kebaikan
56. Mengadakan Ishlah (perbaikan) seperti memerangi para pembangkang agama
57. Membantu dalam kebaikan seperti Amar ma’ruf dan nahi munkar
58. Melaksanakan hukum Alloh
59. Melakukan jihad
60. Amanah dalam denda dan hutang
61. Melaksanakan kewajiban hidup bertetangga
62. Menjaga perangai dan budi pekerti yang baik dalam berinteraksi dengan sesame seperti mengumpulkan harta di jalan yang halal
63. Menginfakkan sebagian hartanya di jalan Alloh
64. Menjauhi foya-foya danmenghambur-hamburkan harta
65. Menjawab salam
66. Mendo’akan orang yang bersin
67. Tidak menyakiti oranglain
68. Serius dan tidak suka main-main dalam keimanan
69. Menyingkirkan duri di jalanan.
Demikianlah semua cabang keimanan tersebut yang jumlahnya kurang lebih menjadi 69 cabang. Pembagian ini dapat dijumlahkan menjadi 79 cabang bila sebagian cabang di atas diperincikan kembali secara mendetail.
Hal ini menunjukkan bahwa keimanan itu diimplementasikan dalam bentuk amaliyah (amalan), yang bersumber dari keyakinan kepada Allah SWT. Iman bukan sekedar keyakinan yang ada dalam diri seseorang. Karena syaitan dan iblis sangat yakin dengan keberadaan Allah SWT. Namun mereka tidak beramal untuk mengimplementasikan keimanannnya, sebaliknya mereka beramal untuk mendapatkan kemurkaan Allah SWT. Dan rasa malu merupakan implementasi dari keimanan dan keyakinan seorang hamba kepada Allah SWT.

Wallohu A'lam..... semoga manfaat. amin

by.Kang Anwar

MEMA'AFKAN BERDAMPAK BAIK BAGI KESEHATAN

28 September 2012

MEMA'AFKAN..... selain diajarkan oleh agama, ternyata sangat berdampak baik bagi kesehatan tubuh.
Setiap orang pasti melakukan kesalahan baik itu disengaja atau tidak. Untuk orang yang benar-benar ingin merubah diri dan tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, sudah sepatutnya dimaafkan.
Memaafkan tidak hanya menyenangkan bagi orang yang dimaafkan tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan orang yang memaafkan. Secara ilmiah memaafkan memberikan manfaat untuk mental maupun fisik.
Seperti yang dipublikasikan oleh Mayo Clinic dan Telegraph, manfaat kesehatan dari memaafkan kesalahan orang lain diantaranya:

1. Terhindar dari penyakit darah tinggi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di university of california, San Diego ditemukan bahwa kemungkinan lonjakan tekanan darah resikonya lebih rendah pada orang-orang yang bisa memaafkan orang lain dan melepaskan amarahnya.

Dalam penelitian yang melibatkan 200 orang relawan ini peneliti meminta relawan untuk memikirkan saat temannya menyinggung perasaan. Setengah dari relawan itu diminta untuk memikirkan mengapa hal itu bisa membuatnya marah sedangka setengah relawan yang lain didorong untuk memaafkan temannya tersebut. Para peneliti menemukan bahwa orang yang marah tekanan darahnya naik lebih besar dibanding orang yang pemaaf.

2. Menurunkan resiko penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang
Memaafkan adalah suatu proses berdamai dengan diri sendiri. Orang pemaaf akan merasa lebih rileks dan menerima kondisi yang sedang dijalani. 

Kondisi mental yang rileks inilah yang membuat orang terhindar dari risiko penyalahgunaan obat terlarang dan alkohol. Penyalahgunaan obat dan alkohol umumnya dilakukan oleh orang yang pendendam sehingga mencari pelampiasan atas emosi negatifnya

Para peneliti telah membuktikan bahwa permintaan maaf bisa meningkatkan kesehatan jantung. Seperti disebutkan diatas bahwa kemarahan dapat meningkatkan tekanan darah, lebih lanjut orang yang mengalami perlakuan kasar meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Tetapi saat mendengarkan kata maaf maka tekanan darah akan turun lagi.

Dalam penelitian ini tekanan darah yang diukur adalah diastolik yaitu tekanan darah saat serambi jantung berkontraksi dan bilik jantung istirahat atau tekanan darah antara dua detak jantung. Jika tekanan ini tinggi dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke.

4. Mengurangi stres dan depresi
Penelitian yang dipublikasikan di Personality and Social Psychology Bulletin diberitakan bahwa memaafkan memiliki dampak positif dalam mengurangi gejala depresi. Memaafkan juga memperbaiki hubungan dan mengembalikan pikiran positif.

5. Meningkatkan kekebalan tubuh
Penelitian yang dilakukan di The Institute of  Human Virology merupakan pusat dari University of Maryland Institute Bioteknologi mengungkapkan bahwa sikap psikologis khususnya memaafkan berpengaruh terhadap imunitas tubuh.

Penelitian ini melibatkan 200 orang penderita HIV positif. “Ini adalah hipotesis bahwa kemampuan untuk memaafkan, untuk melepaskan pikiran dan perasaan marah, dapat meningkatkan kemampuan alami tubuh untuk kembali merangsang sistem fisiologis kembali ke tingkat yang lebih homeostasis normal,” jelas Dr Temoshok. Keadaan homeostatis ini sangat penting dalam memperlambat perkembangan AIDS dan mempertahankan kualitas hidup yang lebih tinggi.”

HUSNUDZON PINTU KEBAHAGIAAN

02 Mei 2012


Tanpa disadari tidak sedikit diantara kita yang mengembangkan pola pikir hitam-putih. Positif dan negatif secara kurang proporsional dalam memandang dan menilai semua fenomena hidup. Parameter yang digunakan seperti fenomena waktu siang dan malam. Terang dan gelap.

Semua kenyataan hidup yang dirasakan sebagai sesuatu yang kurang menyenangkan, apalagi menyusahkan yang mengalirkan air mata, maka hal itu dipandang sebagai hal yang negatif murni. Banyak contoh yang bisa dikemukakan. Sakit misalnya. Apalagi jika sakitnya parah dimana badan tergolek tidak berdaya serta membutuhkan banyak pengeluaran biaya. Juga kenyataan hidup yang lain, seperti keterbatasan ekonomi, kebangkrutan usaha, sulit mendapatkan pekerjaan dan sebagainya.

Sebaliknya semua kenyataan hidup yang dirasakan menyenangkan, maka secara otomatis dipandang dan disikapi sebagai sesuatu yang positif. Hidup makmur serba kecukupan. Sehat terus menerus karena dukungan ekonomi cukup dan sejenisnya.
Bahwa kesempitan merupakan sesuatu yang menyulitkan benar adanya. Bahwa kelapangan hidup merupakan sesuatu yang membahagiakan, benar pula adanya. Hanya kalau berfikir bahwa kesempitan itu pasti ketidak-baikan. Sedang kelapangan pasti kebaikan. Jelas kurang proporsional. Ketahuilah dalam persepektif keselamatan di alam akhirat, keduanya-duanya bisa merupakan kebaikan dan bisa pula merupakan ketidak-baikan. Baik atau tidak baik, tolok ukurnya bukan pada fenomenanya. Tapi penyikapan manusianya atas fenomena yang dialami. Orang-orang yang berada dalam kesempitan, bisa positif jika penyikapannya positif. Sebaliknya kelapangan, bisa berbuah negatif jika penyikapannya negatif.

Sederhana untuk mengukur apakah kesempitan dan kelapangan berbuah negatif atau positif. Jika kesempitan dan kelapangan makin membuat seseorang makin dekat dengan Alloh. Makin taat dan bertakwa kepada-Nya. Itulah tanda bahwa kesempitan dan kelapangan berbuah positif. Sebaliknya kesempitan dan kelapangan berbuah negatif jika membuat seseorang makin jauh dari-Nya. Banyaknya diantara manusia mencari kelapangan untuk banyak tertawa. Sebaliknya berusaha menghindari kesempitan dalam bentuk apapun agar terhindar dari berurai air mata. Padahal keduanya laksana siang dan malam yang selalu diperputarkan oleh Alloh pada setiap manusia. Tidak ada manusia yang bisa bahagia selamanya. Meskipun dia kaya-raya dan berkuasa sekalipun. Dan tidak ada pula manusia yang menangis terus-menerus meski hidupnya paling miskin sekalipun.

Ketauhilah oleh kita semua bahwa lapang dan sempit merupakan media kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dengan kelapangan dan kesempitan, sesungguhnya Alloh berkehendak agar hamba-Nya selamat di negeri akhirat. Adakalanya Alloh menghadirkan kelapangan agar hamba-Nya banyak bersyukur kepada-Nya. Adakalanya Alloh menghadirkan kesempitan agar hamba-Nya kembali mengingat-Nya. Masukkan kedalam hati sebagai hikmah firman-Nya ini,” Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS : Al A’Roof (7) : 168).
Sangat jelas Alloh memberitahu manusia dalam firman-Nya itu. Nikmat dan bencana. Kelapangan dan kesempitan, Alloh yang menghadirkan. Kedua-duanya, tujuannya satu dan sama, yaitu agar manusia kembali kepada kebenaran. Kembali kepada jalan yang diridhoi-Nya.

Hanya sayang manusia sering terhalang oleh nafsu dalam dirinya untuk jernih dalam memahami maksud baik Tuhan-Nya. Ketika dalam kesempitan, sering jatuh kepada keluh kesah dan berputus asa. Sebaliknya ketika terbuka pintu-pintu kelapangan, sering lepas kendali lalu banyak bermaksiat serta lupa kepada Tuhan-Nya.
Kalau selama ini ada diantara kita yang menggunakan kacamata hitam putih dalam menilai kesempitan dan kelapangan hidup, maka rasanya mulai sekarang mesti kita koreksi ulang. Sempit dan lapang mesti kita sikapi secara arif dan bijaksana. Saat dalam kesempitan selami dengan perenungan yang dalam. Mencari makna dan hikmah yang hendak Alloh anugrahkan kepada diri dan keluarga dengan kesempitan itu. Mungkin kita perlu introspeksi diri atas perbuatan dan perilaku diri selama ini. Mungkin Alloh bekehendak mengingatkan, menegur agar kita kembali Kepada jalan-Nya. Seperti orang tua yang menjewer telinga anaknya karena nakal. Orang tua bermaksud baik agar anaknya meninggalkan perbuatan jeleknya. Mungkin Alloh menegur kita agar kita menjadi orang yang bertakwa.

Demikian pula jika Alloh menghadirkan kelapangan dalam kehidupan kita. Sadari bahwa kelapangan itu bukan menjadi pengantar kita menjadi bebas merdeka, laksana burung terbang di angkasa. Bisa hidup semau-maunya. Kelapangan itu merupakan media-Nya agar diri memperbanyak syukur kepada-Nya. Menggunakan kelapangan untuk media banyak beribadah kepada-Nya dan banyak berbuat baik kepada sesama. Gunakan kelapangan untuk menumpuk kebaikan sebanyak-banyaknya. Kabaikan yang akan menjadi bekal perjalanan pulang menghadap kepada-Nya.

Saudaraku, dalam hidup kekinian kita di muka bumi, sejujurnya tidaklah mudah untuk menjadi hamba-Nya yang bisa berendah hati atas segala keputusan-Nya. Yaitu hamba yang selalu berhusnudhon, berbaik sangka kepada-Nya. Hamba yang mau mengambil pelajaran dan hikmah atas setiap keputusan-Nya. Tantangannya adalah arus kehidupan yang berputar deras, skenario naskahnya banyak ditulis dan disutradarai oleh manusia-manusia yang ingkar kepada-Nya. Dunia kita ini dikuasai oleh para penganut faham materialisme dan hedonisme. Mereka melalui penguasaan ilmu, media dan informasi, terus-menerus menggiring kita untuk menganut pola pikir yang sama dengan mereka. Pola pikir yang menjadikan kenikmatan duniawi sebagai dewanya. Kitapun, jika tidak berhati-hati, makin menjauh dari referensi Al Qur’an dan Sunnah Nabi SAW dalam menyikapi segala sesuatu dalam kehidupan.

Alangkah indah dan damainya hati ini andai diri menyadari sepenuhnya bahwa diri ini dihidupkan, bukan hidup sendiri. Lalu menyadari bahwa diatas kehidupan kita ada Sang Maha Pengatur yang mengatur semua fenomena-fenomena yang mesti kita jalani. Dengan kesadaran itu, kita akan menjadi manusia yang bisa selalu berbaik sangka kepada-Nya atas semua ketentuan-Nya. Dan baik sangka kita itu akan menjadi pintu terbukanya berbagai hikmah yang memperkaya ruhaniyah kita. Juga memperberat pundi-pundi catatan pahala amal kebaikan disisi-Nya.

Dengan kesadaran semacam itu, maka kita akan mampu membangun pola pikir positif atas semua pengalaman dalam hidup. Sempit dan lapang bisa dipersepsi sama baiknya bagi kemaslahatan diri. Kalaupun sempit disikapi laksana minum obat dikala sakit. Minum obat rasanya pahit. Tapi justru untuk tujuan penyembuhan. Ketika lapang tidak lalu menjadikan diri lupa daratan. Justru ketika lapang hati makin mawas diri. Makin menyadari bahwa dalam kelapangan tantangannya justru jauh lebih besar dibanding kesempitan. Dalam kelapangan hati dan pikiran bisa lebih mudah untuk tenggelam dalam kelalaian.

Akhirnya mari kita memohon kepada Alloh,” Semoga diri dan keluarga kita semua dikaruniai kekuatan dan ketetapan hati agar senantiasa bisa selalu berbaik sangka kepada-Nya dalam segala keadaan baik sempit maupun lapang. Semoga kelak kita dan keluarga saat kembali kepada-Nya termasuk kedalam golongan orang-orang yang ikhlas dan sabar.”

Mengenang Akhlak Nabi Muhammad SAW

04 Februari 2012

Setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam, antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, “ceritakan padaku akhlak Muhammad”. Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, “ceritakan padaku keindahan dunia ini!.” Badui ini menjawab, “bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...” Ali menjawab, “engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)

Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa “Khumairah” oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur’an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Qur’an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur’an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu’minun[23]: 1-11.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi, Aisyah hanya menjawab, “ah semua perilakunya indah.” ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. ”Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu. Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Nabi Muhammad jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, mengapa engkau tidur di sini. Nabi Muhammmad menjawab, aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu. Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi mengingatkan, berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya. Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

Nabi Muhammad juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar, Rasul pernah berkata, syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (taÕwil) mimpimu itu? Rasul menjawab ilmu pengetahuan.

Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri nabi, hingga Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.

Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad, Allah menyapanya dengan Wahai Nabi. Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.

Para sahabatpun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: Angkat Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai pemimpin. Kata Umar, Tidak, angkatlah Al-Aqra' bin Habis. Abu Bakar berkata ke Umar, Kamu hanya ingin membantah aku saja, Umar menjawab, Aku tidak bermaksud membantahmu. Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak menyadarinya (al-hujurat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia. Umar juga berbicara kepada Nabi dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi, Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami

Nabi mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, Sudah selesaikah, Ya Abal Walid? Sudah. kata Utbah. Nabi membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.

Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi dengan sabar mendegarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!

Ketika Nabi tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya N abi. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi? Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu. Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat, Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah! Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, Dahulu ketika engkau memeriksa barisa di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini. Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap membereskan orang itu. Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi berkata, lakukanlah! Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah. Seketika itu juga terdengar ucapan, Allahu Akbar berkali-kali. sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na'udzu billah.....

Nabi Muhammad ketika saat haji Wada, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian? Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....? Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, benar ya Rasul!

Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!. Nabi meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di Akhir tulisan ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah. Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah.

By. Kang Anwar

Al-Barzanji: Menaklukkan Perang dengan Cinta

03 Februari 2012

Banyak cara untuk menyatakan cinta kepada Rasulullah saw. Apapun caranya selama tidak menyeleweng dari tuntunan syariah yang diajarkanya kepada para sahabatnya haruslah dihargai. Karena menghormati orang yang mencintai Rasulullah saw sama artinya dengan mencintainya. Begitu pula sebaliknya. Barang siapa yang tidak suka kepada orang yang memuji Rasulullah saw berarti ia pun tidak cinta kepada Rasulullah saw na’udzubillah (mengenai hukum membaca Albarzanji dan perayaan maulid telah diterangkan dalam rubrik ini) Rasa cinta yang telah mengkristal dalam kalbu itu selanjutnya berubah dalam berbagai bentuknya dalam dunia nyata. Diantaranya adalah berbagai sastra puja-puji kepada Rasulullah saw dalam berbagai macam sya’ir yang indah.Sebagai rasa cinta kami kepada Rasulullah saw rubrik ubudiyah selama bulan maulid ini insyaallah akan memaparkan berbagai macam karya sastra para pecinta Rasulullah saw yang berisikan puja dan puji kepada Rsulullah saw yang telah akrab dengan kehidupan muslim Nusantara seperti kitab Al-barzanji, Al-diba’i, Maulid Syaraful Anam dan lain sebagainya.

Al-Barzanji sebenarnya bukanlah nama kitab atau buku, tetapi nama penulisnya yaitu Syekh Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad al-Barzanji. Seorang sufi dan mufti di kalangan syafi’iyyah asal Madinah yang lahir pada tahun 1690 M dan meninggal pada 1763 M. Sebutan Albarzanji sebagai nama marga bagi penulisnya, jauh lebih terkenal dibandingkan dengan nama kitab itu sendiri yaitu ‘Iqdul Jawahir. Bahkan di wilayah Nusantara ini, jika sengaja disebutkan nama kitab Iqdul Jawahir banyak orang yang tidak faham, jauh lebih mafhum jika disebutkan Al-barzanji.

Kata ‘Iqdul Jawahir secara leterlek berarti untaian permata. Sesuai dengan namanya, kitab ini merepresentasikan Rasulullah saw sebagai uswatun hasanah. Rasulullah saw bagi dunia seperti untaian mutiara keindahannya menyilaukan dunia. Oleh karena itu, penulisan kisahnyapun dengan kata-kata yang indah pula agar sesuai dengan kisahnya. Sosok yang indah, akhlaq yang indah harus ditulis dengan sastra yang indah. Inilah makna untaian mutiara Iqdul Jawahir.

Dalam konteks sejarah kelahiran Iqdul Jawahir atau Al-Barzanji, perang salib yang melibatkan Sultan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi yang memerintah dinasti Bani Ayyub dengan tentara Salib (Inggris, Prancis dan Jerman) Pada tahun 1099 M menjadi latar yang sangat mengharukan. Di tengah himpitan semangat kemenangan tentara Salib yang sedang merayakan Natal serta keberhasilan menguasai Masjidil Aqsha, Sultan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi mencoba memompa semangat kaum Muslimin dengan menggelar perayaan kelahiran Rasulullah saw secara besar-besaran. Hal ini dilakukan dengan tujuan mengimbangi perayaan Natal mereka.

Ide yang disuarakan oleh Sultan Shalahuddin ini sebenarnya berasal dari iparnya yaitu Mudzaffaruddin Gekburi yang menjadi Atabeg (setingkat Bupati) di Irbil, Suriah Utara. Khalifah An-Nashir yang memegang pemerintahan di Baghdad amat menyambut baik ide serta seruan ini. Maka pada bulan Dzulhijjah 579 H / 1183 M, ketika musim haji tiba, Sultan Salahuddin sebagai penguasa resmi Haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) menghimbau kepada seluruh jamaah haji, agar sekembalinya dari ibadah haji segera mentradisikan perayaan maulid Nabi di daerah masing-masing. Oleh karena itu mulai tahun 580 H / 1184 M tiap tanggal 12 Rabiul Awal harus dirayakan peringatan Maulid Nabi saw dengan berbagai kegiatan yang dapat membangkitkan semangat umat Islam.

Ternyata peringatan Maulid Nabi saw yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut kembali oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa akhirnya kembali menjadi masjid setelah sempat dijadikan gereja oleh pasukan salip.

Sultan Salahuddin sendiri memperingati peringatan Maulid Nabi saw yang pertama kali ini dengan menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat hidup Rasulullah saw. Sayembara ini diikuti oleh Seluruh ulama dan sastrawan pada zamannya. Dan akhirnya sebagai pemenang adalah Syaikh As-Sayid Ja`far Al-Barzanji dengan karyanya yang berjudul ‘Iqdul Jawahir.

‘Iqdul Jawahir merupakan biografi Nabi Muhammad saw yang ditulis menurut gaya puitika Arab. Karya ini terbagi dua: Natsar (prosa) dan Nadzom (puisi). Bagian Natsar terdiri atas 19 sub bagian yang di dalamnya juga memuat 355 syair. Seluruhnya menuturkan riwayat Nabi Muhammad saw, mulai dari saat-saat menjelang beliau dilahirkan hingga masa tatkala dilantik menjadi Nabi. Sementara, bagian Nadzom terdiri atas 16 sub bagian yang memuat 205 untaian syair.

Sebagaimana karakter syair Arab, ‘Iqdul Jawahir banyak menggunakan berbagai kata yang diambil dari fenomena alam jagad raya seperti matahari, bulan, purnama, cahaya, satwa, batu, dan lain-lain. Kata-kata itu diolah sedemikian rupa, bahkan disenyawakan dengan shalawat dan doa, sehingga melahirkan sejumlah besar metafor yang gemilang. Silsilah Sang Nabi sendiri, misalnya, dilukiskan sebagai “Untaian Mutiara”.

Keunggulan ‘Iqdul Jawahir sebagai karya sastra terbukti dengan mendunianya karya ini di pelosok penujur negeri Muslim. Bahkan ketinggian bahasanya memerlukan syarah yang banyak ditulis oleh para ulama diantaranya adalah Al-’Allaamah Al-Faqih Asy-Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad yang terkenal dengan panggilan Ba`ilisy yang wafat tahun 1299 H ‘Al-Qawl Al-Munji ‘ala Mawlid Al-Barzanji’ yang telah banyak kali diulang cetaknya di Mesir. Juga Syaikh Muhammad bin Ahmad ‘Ilyisy Al-Maaliki Al-’Asy’ari Asy-Syadzili Al-Azhari dengan kitab ’Al-Qawl Al-Munji ‘ala Maulid Al-Barzanji’. Beliau ini adalah seorang ulama besar keluaran Al-Azhar Asy-Syarif, bermazhab Maliki lagi Asy`ari dan menjalankan Thoriqah Asy-Syadziliyyah. Beliau lahir pada tahun 1217 H / 1802M dan wafat pada tahun 1299 H / 1882M. dan Juga Ulama Nusantara sendiri yaitu Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi turut menulis syarah yang lathifah bagi Maulid Al-Barzanji dan karangannya itu dinamakannya ‘Madaarijush Shu`uud ila Iktisaail Buruud’ kitab inilah yang sering dibaca diberbagai pesantren di Jawa secara kilatan (tiga atau dua kali pertemuan) dalam rangka memperingati hari maulid. Kemudian, Sayyid Ja’far bin Sayyid Isma`il bin Sayyid Zainal ‘Abidin bin Sayyid Muhammad Al-Hadi bin Sayyid Zain yang merupakan suami satu-satunya anak Sayyid Ja’far Al-Barzanji, juga telah menulis syarah bagi Maulid Al-Barzanj tersebut yang dinamakannya ‘Al-Kawkabul Anwar ‘ala ‘Iqdil Jawhar fi Maulidin Nabiyil Azhar’. Beliau juga telah menulis sebuah manaqib yang menceritakan perjalanan hidup dan ketinggian mertuanya Sayyid Ja’far Al-Barzanji dalam kitabnya “Ar-Raudhul A’thar fi Manaqib As-Sayyid Ja’far”.

Dengan demikian Al-Barzanji atau ‘Iqdul Jawahir adalah karya sastra berasaskan rasa cinta kepada paduka Nabi yang Mulia, yang entah mengapa karya ini berhasil menyemangati para tentara muslim dalam perang Salip dan berhasil mengembalikan Masjidil Aqsha. Untaian kata Indah yang dipadukan dengan tulusnya niat dengan penuh hormat dan harap mampu menarik berkah dari Rasulullah manusia yang Mulia. Demikian pula dengan pembacaan al-Barzanji di Nusantara, semua dilakukan dengan penuh pengharapan menanti syafaat di yaumil qiyamat .

Di kalangan pesantren tradisi membaca Al-barzanji ini disebut dengan berzanjenan. Bagi kaum Nahdliyyin Al-Barzanji menjadi salah satu cara bertawassul kepada Rasulullah saw. Dengan menuturkan kisah kehidupan Rasulullah saw dan bershalawat atasnya, orang mengharap adanya kebaikan dalam kehidupan.

Di pesantren tradisi membaca Al-Barzanji merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan setiap malam jum’at atau malam selasa. Membaca dengan beramai-ramai, dengan suara lantang dengan kraeasi nada yang bermacam melahirkan semangat tinggi. Bagi kehidupan santri yang setiap harinya bergumul dengan kitab kuning, mengaji dan maknani, membaca berzanji adalah sebuah hiburan tersendiri, disamping juga tabarrukan kepada Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah saw. Tradisi ini tidak hanya ada dalam dunia pesantren saja, tetapi juga masyarakat awam. Untuk momen-momen tertentu mereka bersama-sama membaca Al-barzanji dengan niat tabarrukan kepada Rasulullah saw. Misalnya ketika hari ketujuh kelahiran seorang bayi, atau ketika menjelang pesta pernikahan, bisa juga ketika menghuni rumah baru dan lain sebagainya. Seringkali berzanjenan diiringi dengan rebana atau terbang yang menggema. Pembaca dan juga sahibul hajat sama seperti Sultan Salahuddin yang berharap kebaikan dari pembacaan al-Barzanji. Jika tentara salip saja bisa ditaklukkan apalagi hanya sekedar kejahatan dan keburukan.

Lantas siapakah sebenarya Syaikh As-Sayid Ja’far Al-Barzanji itu? Ia dilahirkan pada Kamis awal bulan Zulhijjah tahun 1126 (Desember 1714 M) di Madinah Al-Munawwaroh serta wafat pada hari Selasa, selepas Asar, 4 Sya’ban tahun 1177 H (6 Februari 1764 M) di Kota Madinah. Beliau dimakamkan di pemakaman Baqi’. Secara Nasab beliau bersandar langsung hingga Rasulullah saw. lengkapnya Sayid Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim bin Muhammad bin Sayid Rasul bin Abdul Sayid bin Abdul Rasul bin Qalandar bin Abdul Sayid bin Isa bin Husain bin Bayazid bin Abdul Karim bin Isa bin Ali bin Yusuf bin Mansur bin Abdul Aziz bin Abdullah bin Ismail bin Al-Imam Musa Al-Kadzim bin Al-Imam Ja’far As-Sodiq bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir in Al-Imam ‘Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Husain bin Sayidah Fathimah Az-Zahra binti Rasulullah Muhammad Saw.

Syaikh As-Sayid Ja’far Al-Barzanji dikenal sebagai seorang ulama yang menguasai banyak cabang ilmu, diantaranya ialah ilmu Sharaf, Nahwu, Manthiq, Ma’ani, Bayan, Adab, Fiqh, Usulul Fiqh, Faraidh, Hisab, Usuluddin, Hadits, Usul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, Al-‘Arudh, Kalam, Lughah, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawuf, Kutub Ahkam, Rijalul Ahadits, dan Mustholahul Ahadits. Selain itu, Syaikh As-Sayid Ja’far Al-Barzanji, juga adalah seorang khatib serta pengajar di Masjid Nabawi. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan taqwanya, namun masyhur pula dengan karamah serta kemakbulan doanya. Penduduk Madinah acap kali meminta pada beliau berdo’a untuk turunnya hujan pada musim-musim kemarau. Hingga terucap sebuah syair yang artinya:

Dahulu al-Faruq dengan al-’Abbas beristisqa` memohon hujan
Dan kami dengan Ja’far beristisqa` memohon itu datang
Maka yang demikian wasilah mereka kepada Tuhan
Dan ini adalah wasilah kami dengan Imam bermata hati terang
Dengan demikian, sastra yang lahir dari seorang alim (dhahir dan bathin) yang luar biasa , guna menghormati orang yang paling mulia, pastilah memiliki nilai yang istimewa.

By.: Kang Anawr

Sumber : nu org

MENGAPA DO'A KITA TIDAK DI KABULKAN?

11 November 2011


Segala puji bagi Alloh SWT yang senantiasa memberikan anugerah bagi kita sekalian.
Sholawat salam semoga senantiasa tecurah pada baginda Nabi Muhammad SAW.
Islam sedah mengajarkan kepada kita semua agar senantiasa berdo`a kepada Alloh SWT,
Bahkan dalam sebuah Hadits bersabda ;
“Berdo`a Itu Ibadah”
(HR.AbuDaud dari An-Nu`man bin basyir r.a Kitab Al-Adzkar Hal 345)

Firman Allah SWT ;
“Dan Tuhanmu berfirman : Berdo`alah kepada-KU niscaya akan aku kabulkan.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku mereka akan masuk neraka jahanam dengan penuh kehinaan “
(Q.S. Al-Mu`min:60)

Ayat di ataas sangat jelas, bahwa Alloh SWT yang Maha Mendengar akan mengabulkan Do`a hamba-Nya. Namun dalam kenyataannya, masih sering kita mendengar keluhan dari banyak saudara kita, “setiap hari aku menengadahkan tangan memohan kepada Alloh SWT, Tetapi apa yang dimintanya tidak kunjung di jawab”. Timbul pertanyaan “Mengapa permohonan kita itu masih belum di kabulkan oleh Alloh SWT ?”

Untuk mengetahui kendala-kendaladi kabulkannya do`a tersebut, berikut nasehat seorang Syekh Imam Ibrahim bin Adam’ yang di tukil dari “Kitab Hayatul Qulub”.
Diriwayatkan oleh ‘Imam Syaqiq Al-Balkhi’, bahwa ketika Imam Ibrahim berjalan ke pasar Basrah (Kota terkenal di Iraq), beliau menerima pertanyaan dari sebagian penduduk “Mengapa nasib kami masih belum berubah, padahal siang dan malam kami selalu berdo`a, padahal Alloh SWT telah berjanji akan mengabulkan-Nya”.

Syekh Imam Ibrahim bin Adham menjawab dengan tegas: “Wahai penduduk Basyrah ! Hati kalian telah mati pada sepuluh perkara, maka bagaimana mungkin do’a kalian akan dikabulkan.?”

Kemudian beliau menyampaikan sepuluh kendala tersebut, yaitu:

  1. Kalian mengenal Alloh SWT, tetapi tidak memenuhi hak-Nya.
  2. Kalian membaca Al-Quran tapi tidak mengamalkan isi-Nya.
  3. Kalian mengaku cinta kepada Rasululloh, tetapi sunah-Nya ditinggalkan,
  4. Kalian mengaku memusuhi syetan, tetapi mematuhi dan menyetujuinya.
  5. Kalian mengaku ingin masuk surga, tetapi tidak mau beramal untuk [meraih]-nya.
  6. Kalian mengaku ingin selamat dari api neraka, tetapi menjerumuskan diri kalian sendiri kedalamnya.
  7. Kalian sibuk memeikirkan dan mengurus aib saudara kalian, tetapi tidak melihat aib diri sendiri.
  8. Kalian memerintah kepada manusia untuk berbuat baik, tetapi melupakan diri sendiri.
  9. Kalian memerintahkan orang lain untuk mengeluarkan zakat, tetapi engkau tidak mengeluarkannya.
  10. Kalian ikut menguburkan orang yang meninggal, tetapi tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu.
Sumber: al-habib.

CERDAS MENGGALI HIKAMH DISETIAP PERISTIWA

03 April 2011

Oleh K.H. Anwar Manshur

اَلحَمْدُ لِلَّهِ مُنَوِّرِالْقُلُوْبِ بِالْحِكْمَةِ وَالإِيْمَانْ . وَبِهِمَا هَدَاهَا إِلَى سَبِيْلِ السَّعَادَةِ وَالْجِنَانْ . دَارِ السَّلاَمِ وَاْلأَمَانْ. وَالصَّلاةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمِّدٍ صَاحِبِ الْحِكَمِ الْعِظَامْ . الَّذِيْ هُوَ الْقُرْأَنُ الْعَظِيْم . وُسُنَنِهِ المطهرة. وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ هُمْ أَخْياَرُ الْخِيَرَةِ . وَبَعْدُ :

Pembaca Majalah MISYKAT yang dirahmati Allah...
Setiap peristiwa yang dialami seseorang senantiasa mengandung hikmah yang diselipkan Allah Azza wa Jalla. Tujuan Allah meletakkan hikmah itu, tidak lain agar manusia dapat menjadikannya sebagai pelajaran (ibrah), dan mengambil manfaat darinya untuk kemudian dijadikan dasar dalam menapaki kehidupan. Dalam cerita-cerita yang disampaikan Allah melalui al Quran, Allah senantiasa menekankan betapa pentingnya kecerdasan sebagai wasilah untuk memahami hikmah di balik peristiwa-peristiwa yang terjadi. Allah Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ ِلأُوْلِي اْلأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf; 111)

Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan;
وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
Artinya: “Dan semua kisah dari para Rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan (dalam surat ini) telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Hud; 120)

Ayat ini diturunkan oleh Allah swt. untuk menguatkan hati Nabi saw., agar jangan sampai terpengaruh oleh cacian orang-orang yang memusuhinya. Dalam ayat ini, Allah juga menjelaskan bahwa para Rasul dahulu juga mengalami peristiwa yang sama dengan yang dialami Nabi saw. Sehingga Nabi saw. diharapkan benar-benar memerhatikan kisah-kisah para Nabi yang telah diwahyukan kepada beliau. Beliau menghayati segala peristiwa yang menimpa para pendahulunya, dan menjadi tahu bahwa medan perjuangan yang dialami setiap penyampai ajaran Allah sangat berat. Berbagai bentuk ujian harus mereka hadapi dengan penuh kesabaran dan ketawakalan. Semua sudah diatur oleh Allah yang Maha Arif lagi Maha Kasih.

Pembaca yang budiman...
Kecerdikan Nabi dalam menghayati setiap peristiwa yang terjadi pada para Nabi sebelumnya, ternyata berpengaruh besar dalam menentukan sikap ketika menangani setiap persolan yang sedang menimpa. Buah penghayatan Nabi dari kisah para Nabi sebelumnya antara lain adalah, beliau menjadi lebih sabar dalam menghadapi umatnya, bijak dalam bertindak, cerdas mengambil langkah-langkah strategis, dan yang tak kalah penting adalah kesadaran akan peran serta Allah dalam setiap peristiwa.

Kesadaran akan peran serta Allah dalam setiap peristiwa, hendaknya diiringi pula dengan berprasangka baik kepada Allah swt. Sebab, manusia yang hidupnya selalu diliputi dengan prasang buruk, jangankan memperoleh hikmah dari peristiwa-peristiwa yang dialaminya, mendapatkan hidayah saja boleh dikatakan mustahil. Sehingga hidupnya akan senantiasa dirundung kegalauan. Karenanya, untuk mengetahui hikmah dari setiap peristiwa yang sedang menimpa, hendaknya seseorang mengedepankan sikap berprasangka baik atau husnudzan kepada Sang Maha Pencipta. Terlebih, berprasangka baik kepada Allah swt. merupakan bentuk ibadah yang lain. Nabi Muhammad saw. bersabda:

إِنَّ حُسْنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ مِنْ حُسْنِ عِبَادَةِ اللَّهِ
Artinya: “Sesungguhnya berbaik sangka kepada Allah adalah sebagian dari baiknya beribadah kepada Allah.” (HR. Ahmad)

Selain itu, jika seseorang telah berbaik sangka kepada Allah, maka berarti ia telah percaya terhadap semua tindakan Allah. Dan tentunya, ia juga harus yakin bahwa di balik tindakan Allah pasti terkandung hikmah, kebaikan, dan manfaat bagi dirinya. Karena tidak ada tindakan Allah yang tergolong sia-sia. Allah swt. Berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاَعِبِينَ
Artinya: “Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” (QS. Al-Anbiya’; 16)

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلاً
Artinya: “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya sesuatu yang batil (tanpa hikmah).” (QS. Shad: 27)

Pembaca Majalah MISYKAT yang arif...
Di antara kelompok yang dikenal sebagai ahli dalam mencari hikmah adalah ulama sufi. Para ulama sufi memiliki teknis khusus dalam menggali hikmah. Yakni, dengan mengamalkan ilmu-ilmu yang sudah dimiliki. Karena Nabi sendiri mengatakan;

مَنْ عَمِلَ بِمَا يَعْلَمُ وَرَّثَهُ الله ُعِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang sudah ia dapatkan, maka Allah akan memberikan pengetahuan yang belum pernah ia ketahui.”

Imam al-Ghazali mengatakan bahwa, hikmah tersebar di mana-mana dan tidak terhitung jumlahnya, karena terlalu banyak dan begitu luasnya. Hikmah hanya dapat dibuka dengan mujahadah, muraqabah, dan mengerjakan amal-amal lahir dan batin. Duduk bersama Allah dalam kesenderian (al-khalwah) dan penuh kesadaran (hudlur al-qalbi), itulah pintu ilham dan sumber keterbukaan (hikmah). Banyak sekali pelajar yang berlama-lama dalam menuntut ilmu, namun tidak mampu untuk mengamalkan apa yang ia peroleh, meski hanya satu kalimat saja. Sementara itu, tidak sedikit orang yang hanya membatasi diri pada hal-hal yang penting, namun maksimal dalam beramal dan mengawasi hati, Allah telah membukakan baginya pintu rahasia, hikmah, dan pengetahuan yang halus, yang dapat membuat bingung orang-orang berotak cemerlang.

Pembaca yang dimuliakan Allah...
Di balik setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Ulama ushul fikih mengartikan hikmah sebagai manfaat yang diperoleh dan marabahaya yang dapat dijauhi. Jika kita terapkan dalam peristiwa yang kita alami, berarti pengalaman-pengalaman yang dapat kita ambil manfaatnya, dapat kita gunakan untuk menangkal hal-hal yang membahayakan dan membuat usaha kita gagal. Dengan demikian, kita telah berusaha menjadi orang yang cerdas dalam memanfaatkan hikmah Ilahiyah, pengajaran Allah untuk kehidupan kita. Maka, sungguh beruntung orang yang dianugerahi hikmah. Allah swt. berfirman;

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُولُو اْلأَلْبَابِ
Artinya: “Allah menganugerahkan “hikmah” kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah; 269)

Syaikh Ibrahim An-Nakha’i mengatakan bahwa, arti dari “al-hikmah” dalam ayat di atas adalah pemahaman. Jadi, orang yang dianugerahi pemahaman (terutama tentang hal-hal yang dapat menjadikan ia lebih dekat kepada Allah) telah mendapatkan anugerah dan karunia yang banyak, baik karunia keduniawian maupun karunia kerohanian.

Pembaca yang dimuliakan Allah...
Akhir kata, marilah kita berdoa bersama-sama, semoga kita dijadikan orang yang cerdik dalam memahami dan menghayati hikmah di balik setiap peristiwa yang kita alami. Menjadikan kita semakin dekat kepada Sang Sumber hikmah, Allah swt. Sehingga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapat karunia yang banyak. Allahumma amin...

KHOLIFAH ALLOH DIAKHIR ZAMAN (Ust.Ihsan Tandjung)

06 Maret 2011


Kedatangan Imam Mahdi (ratu adil red.) di akhir zaman merupakan salah satu tanda-tanda menjelang datangnya hari Kiamat. Terdapat banyak sekali hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang mengisyaratkan kedatangannya. Namun hadits di atas barangkali merupakan hadits yang paling jelas menyebutkan apa kewajiban umat Islam saat ia telah hadir. Ada beberapa pelajaran yang bisa kita simpulkan dari hadits ini:

Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi), maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi. (HR Abu Dawud 4074)

Pertama, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi)...” Bagian ini mengisyaratkan bahwa umat Islam perlu senantiasa mewaspadai kehadiran Imam Mahdi. Janganlah kelalaian kita akan fenomena ini menyebabkan kita menyesal saat ia akhirnya hadir. Atau janganlah kita menafikan pentingnya hal ini karena menganggap bahwa mereka yang peduli kehadirannya adalah orang-orang fatalis-pasifis yang tahunya cuma ”menunggu” datangnya Imam Mahdi dan sisa hidupnya hanya diisi dengan kesibukan berdzikir kepada Allah sambil berpangku tangan menyaksikan keterbelakangan ummat Islam.

Saudaraku, memahami dengan benar akan fenomena Imam Mahdi merupakan perkara yang sangat penting. Mengapa? Karena ia kelak akan menjadi pemimpin ummat Islam, bahkan panglima perang ummat Islam, yang mengajak kita semua berjihad fii sabilillah melawan para Mulkan Jabbariyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak sambil mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya) yang selama ini berkuasa dengan sombongnya sebagai para thaghut di tengah ummat Islam namun dapat berlalu begitu saja. Mereka menjadi dapat berkuasa dengan semena-mena karena didukung oleh penguasa dunia dari kalangan al-kuffar yang sedang Allah izinkan mendapat giliran kepemimpinan atas ummat manusia sedunia. Dan mereka menjadi langgeng dalam sistem kekuasaannya yang batil sebagiannya dikarenakan ummat Islam sedang berada pada titik nadir kelemahannya di berbagai bidang kehidupan.

Imam Mahdi merupakan sebuah divine solution (solusi Rabbany) untuk menghadapi dan menanggulangi kezaliman babak keempat perjalanan ummat Islam di era Akhir Zaman. Babak keempat merupakan babak kepemimpinan para Mulkan Jabbariyyan sebagaimana telah diprediksi kehadirannya oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sejak limabelas abad yang lalu. Babak keempat merupakan babak paling kelam dalam perjalanan sejarah ummat Islam di era akhir zaman. Babak keempat merupakan babak dimana kita semua hidup dewasa ini. Ia merupakan babak di mana umat islam babak belur...!

Saudaraku, ini bukanlah suatu perkara yang harus diratapi atau disesali. Sebab Allah sendiri telah mengisyaratkan di dalam Al-Qur’an bahwa ini cuma masalah pergiliran kepemimpinan di dunia. Ada masanya orang-orang beriman Allah beri kesempatan memimpin umat manusia dan ada gilirannya Allah izinkan orang-orang kafir yang memimpin dunia. Ada saatnya orang-orang beriman menang dalam suatu peperangan dan ada saatnya orang-orang kafir yang menang.

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (QS Ali Imran ayat 140)

Alhamdulillah, melalui hadits Nabi kita ditanamkan optimisme bahwa pada saat menjalani era paling kelam tersebut Allah bakal mendatangkan pertolonganNya. Dan salah satu bentuk pertolongan Allah ialah dengan diutusnya Imam Mahdi. Hal ini sangat penting apalagi ketika kian hari kita dibuat kian bingung oleh berbagai fihak yang saling meng-claim bahwa kelompok, golongan, partai, hizb, jamaah dan harakah yang dipimpinnyalah yang sepatutunya didukung, karena merekalah yang paling Islami dalam berjuang. Belum lagi infiltrasi musuh-musuh Islam ke dalam berbagai kelompok tersebut menyebabkan begitu rawannya keadaan kelompok-kelompok tersbut. Kita menjadi sulit untuk benar-benar meyakini apakah sebuah kelompok masih murni memperjuangkan nilai-nilai Islam ataukah ia telah ditunggangi oleh fihak-fihak yang sesungguhnya memusuhi Islam dan Ummat Islam.

Jadi, kedatangan Imam Mahdi bukan semata merupakan sebuah dalil naqli, tapi ia juga merupakan sebuah dalil aqli. Adalah sangat logis bahwa pada saat kebingungan telah merajalela diperlukan suatu kejelasan petunjuk yang bersumber dari Allah dan RasulNya agar kita memiliki kemantapan sikap dalam melangkah. Oleh karenanya, memiliki ilmu dan kepedulian akan fenomena Imam Mahdi sebagai salah satu tanda akhir zaman menjadi suatu perkara dharuri alias urgen.

Yang penting adalah kita tidak berhenti hanya pada sikap pasif-fatalis dalam proses menjelang kehadiran Imam Mahdi. Tentunya mereka yang mengira bahwa menunggu kedatangan Imam Mahdi berarti cukup dengan bersantai saja sambil kadang-kadang berdoa kepada Allah, maka ini bukanlah tindakan bertanggungjawab dan memadai.

Maka dalam hal ini marilah kita memulai proses pembelajaran dan pengkondisian itu kepada setiap fihak di sekitar kita, dimulai dari diri sendiri, keluarga dan kerabat. Marilah kita mulai mengkaji berbagai nash dari hadits-hadits shohih mengenai Imam Mahdi. Janganlah kita terjebak pada suatu kelompok yang mengaku dan menyakini bahwa pimpinanya itu adalah Imam Mahdi Al Ma'hud ( Imam Mahdi yang di janjikan Rosululloh saw ).

Marilah kita kenali sedapat mungkin apa saja yang menjadi kriteria Imam Mahdi. Di antaranya ialah:

(1) Imam Mahdi memiliki nama seperti nama Nabi kita dan nama ayahnya seperti nama ayah Nabi kita. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah ta’aala akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.”(HR Abu Dawud 9435)

(2) Bila dunia telah dihiasi dengan dua fenomena nyata, yaitu fenomena sosial berupa perselisihan antar-manusia yang sangat tampak dan fenomena alam yaitu banyaknya gempa. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan memenuhi bumi dgn keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad 10898)

(3) Kedatangnannya ditandai dengan munculnya tiga peristiwa yaitu :

a) wafatnya seorang pemimpin sehingga menimbulkan kekacauan berkepanjangn setelah wafatnya pemimpin itu

b) terjadinya pembaiatan paksa seorang lelaki di depan Ka’bah dan

c) dibenamkannya ke dalam bumi suatu pasukan yang berangkat dari arah utara utuk menangkap Imam Mahdi dan orang-orang yang berbai’at dengannya itu.

Sebagaimana disebutkan oleh Nabi dalam hadits sebagai berikut:

”Akan terjadi perselisihan (kekacauan) setelah wafatnya seorang pemimpin, maka keluarlah seorang lelaki dari ahli Madinah mencari perlindungan menuju ke Mekkah, lalu lelaki itu didatangi oleh sekumpulan manusia dari ahli Mekkah, maka mereka membai’at paksa lelaki itu di antara Rukun dan Maqom (Ibrahim) padahal ia tidak suka dengan hal itu, kemudian suatu pasukan diutus dari ahli Syam (untuk menangkap orang-orang yang berbai’at itu), maka mereka dibenamkan ke dalam bumi di suatu tempat bernama Al-Baida antara Mekkah dan Madinah.” (HR Abu Dawud)

Maka setelah terbenamnya pasukan itu tinggalah satu atau dua orang dibiarkan hidup oleh Allah untuk menceritakan apa yang dialami oleh pasukan tersebut sehingga tersiarlah ke seluruh dunia berita menggemparkan itu. Dan setiap mukmin yang faham hadits ini pasti langsung faham bahwa Imam Mahdi telah diutus. Maka sejak saat itu mulailah terjadi gelombang demi gelombang kaum muslimin dari segenap penjuru dunia untuk berbai’at dan bergabung dengan pasukan Imam Mahdi. Mulailah pasukan Al-Mahdi menjalankan proyek pengalihan kondisi dunia dimana ummat Islam hidup di babak keempat di bawah kepemimpinan Mulkan Jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak sambil mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya) menuju babak kelima yaitu tegaknya Khilafah ’ala minhaj An-Nubuwwah (kekhalifahan mengikuti metode Kenabian). Mulailah proyek peralihan keadaan zaman dari kondisi penuh kezaliman menuju kondisi penuh keadilan. Sebagaimana Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sinyalir sebagai berikut:

“Sedangkan Al-Mahdi ia akan penuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman.” (Al-Hakim 8714)


Selanjutnya Imam Mahdi akan memimpin ghazawat (perang demi perang) membebaskan negeri demi negeri dari kekuasaan para Mulkan Jabbriyyan. Beliau akan mengawali suatu proyek besar membebaskan dunia dari penghambaan manusia kepada sesama manusia untuk hanya menghamba kepada Allah semata, Penguasa Tunggal dan Sejati langit dan bumi. Beliau akan memastikan bahwa dunia diisi dengan sistem dan peradaban yang mencerminkan kalimat thoyyibah Laa ilaha illAllah Muhammadur Rasulullah dari ujung paling timur hingga ujung paling barat.

Ya Allah, izinkanlah kami bergabung dengan pasukan Imam Mahdi. Ya Allah anugerahkanlah kami rezeki untuk berjihad di jalanMu bersama Imam Mahdi lalu memperoleh salah satu dari dua kebaikan: ’isy kariman (hidup mulia di bawah naungan syariat Allah) atau mut syahidan (mati syahid). Amin...

by.kanganwar.blogspot.com
sumber :Catatan Facebook MAJELIS TAUSIAH PARA KYAI & USTADZ INDONESIA

TIPS KANG ANWAR

Loading...
Sponsored By :Kang Anwar.

LANGGANAN

Posting Terbaru

GRATIS UPDATE BERITA, silahkan Berlangganan !

Kang Anwar Selalu update setiap waktu Untuk berlangganan via email, kirimkan email anda di sini

Email Anda:

Powered by Feed My Inbox

KAJIAN KANG ANWAR

 

© Copyright Media Kang Anwar 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.