SELAMAT DATANG DI BLOG KANG ANWAR ! e-mail :coll.aan@gmail.com / aan_anwar3@yahoo.com / kanganwar@hotmail.com http://kanganwar.blogspot.com

20 Oktober 2009

AHLUSSUNAH WAL JAMA'AH


Nabi Muhammad Saw. telah bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umatku dalam kesesatan selamanya, kekuatan Allah bersama jama’ah maka ikutilah kelompok mayoritas dan barang siapa yang menyimpang maka ia akan menyendiri dalam neraka”. HR. Turmudzi, Abu Nu’aim, al-Hakim dari Ibn Umar ra.

Dari diskripsi hadits Nabi di atas, kita dapat membaca keberadaan umat Islam di akhir jaman. Disamping itu, dalam hadits lainnya, Nabi menyatakan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 kelompok, yang dari kesemuanya hanya satu kelompok yang selamat, Nabi sendiri dalam hadits tersebut mengistilahkan dengan Ahlussunnah wal Jama’ah.


Ahlussunnah wal Jama’ah, sebagaiman disebutkan dalam kitab Ahlussunnah al-`Asya’irah adalah istilah yang muncul untuk menunjukkan orang-orang yang berada pada jalan ulama salaf yang shaleh dan memegang teguh ajaran al-Quran, al-Sunnah dan al-Atsar yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad dan dari para shahabatnya. Term ini hanya untuk membedakan sekte ini dari sekte-sekte lainnya yang termasuk madzhab ahli bid’ah yang selalu mengikuti hawa nafsunya.

Kemunculan istilah ini diilhami dan terinspirasi dari diskripsi hadits Nabi Muhammad dalam rekaman haditsnya yang menyatakan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan dan hanya satu yang selamat dan berhak menduduki surga yang dijanjikan Allah dalam al-Qur'an, yakni firqah al-najiyah, Ahlussunnah wal Jama'ah. Dan hal itu kini benar-benar menjadi realita yang kemunculannya dimulai paska peralihan khalifahan Shahabat Utsman ibn Affan kepada Shahabat Ali ibn Abu Thalib. Perpecahan itu diawali dengan pro dan kontra penerimaan arbitrase (tahkim) yang dilakukan oleh pihak Ali ibn Abu Thalib dan pihak Mu'awiyyah. Kelompok baru itu adalah Khawarij dan Syi’ah yang pada mula kemunculannya hanya merupakan perpecahan madzhab politik, namun akhirnya berimplikasi pada perpecahan pandangan dan sikap serta manhaj ushul al-din (ilm al kalam).

Kelompok yang oleh Nabi Muhammad sudah didiskripsikan dan merupakan kelompok yang selamat nanti di akhirat, pada awalnya merupakan kelompok jumhur (mayoritas) yang muncul sebagai balance dari kedua madzhab yang telah mendahuluinya, Khawarij dan Syi’ah. Namun pada perkembangannya madzhab jumhur mulai terpecah-pacah. Perpecahan itu terus terjadi sehingga muncul satu madzhab yang disebut dengan Ahlussunnah wal Jama’ah, mayoritas ulama menyimpulkannya bahwa madzhab itu adalah sekte Ahlul Hadits, sekte Asya’irah dan sekte Maturidiyyah.

Ketiga sekte ini bukanlah merupakan aliran baru dalam zona kalam (teologi), tetapi mereka mengukuhkan dan menegaskan kembali kemurnian ajaran para salaf al-shalih yang diwariskan Nabi Muhammad kepada para pengikutnya dan seterusnya. Sebagaimana yang telah diungkapkan Dr. Muhammad Sa'id Ramdlan al-Buthi dan para ilmuwan Islam lainnya dalam kata pengantar kitab ahlussunnah al`asya’irah. Madzhab yang didirikan oleh Ahmad ibn Hanbal (W. 241 H.), Abu Hasan al-`Asy’ari (W. 324 H.) dan Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H.), hanya murni merupakan pembelaan terhadap kebenaran dan orisinalitas ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad.

Hanya saja pasca kemunculan dua sekte terahir, Asya’irah dan Maturidiyyah, tidak ditemukan orang-orang yang ahli dalam berbagai bidang ilmu keagamaan kecuali ia adalah penganut sekte Asy’ari dan Maturidi. Seperti dalam bidang Hadits disebutkan al-Daruquthni, al-Hakim, al-Baihaqi, al-Khathib al-Baghdadi, ibn al-Shalah, al-Qaththan dan lain-lainnya merupakan penganut Asy’ari dan Maturidi. Dalam bidang Tafsir al-Jashshash Abu ‘Amr al-Dani, al-Qurthubi, al-Razi, al-Baidlawi dan ahli tafsir masyhur lainnya.

Dan dari ahli fiqh baik yang bermadzhab Hanafi seperti al-Saraksi, ibn Nujaim, Abdul Aziz al-Bukhari, ibn Abidin, al-Thahthawi dan mayoritas para ulama Pakistan dan India. Madzhab Maliki seperti Ibn Rusyd, al-Syathibi, al-Qarafi, ibn al-Hajib, al-Dasuqi, al-Sanusi, dan ulama-ulama mayoritas Maroko, madzhab Syafi’i seperti al-Juwaini dan anaknya al-Haramain, al-Ghazali, al-Razi, al-Amudi, al-Syairazi, al-Asfirayini, al-‘Izz ibn Abdussalam, al-Nawawi, al-Rafi’i, Zakariya al-Anshari, ibn Hajar al-Haitami, al-Ramli, al-Bujairami, al-Baijuri dan lainnya, ataupun madzhab Hanbali seperti al-Mawahibi al-Hanbali, ibn al-Syatha al-Hanbali dan para imam-imam pendahulunya.

Begitupun para pemimpin gerakan Islam Dunia mayoritas mereka memeluk madzhab Asy’ari dan Maturidi seperti, Shalahuddin al-Ayyubi, Raja-Raja dinasti Utsmaniyyah serta pimpinan gerakan-gerakan Islam seperti Di Mesir, Maroko, Sudan, Irak, Pakistan, India dan lainnya. Hal ini bukanlah tidak ditemukan orang-orang yang kompeten dalam bidang tertentu dari madzhab ahlul hadits, tetapi karena sedikitnya para ulama tidak menyebutnya secara perinci.

Dari sekian banyak ulama yang telah disebutkan diatas dan nama-nama lain yang tidak bisa disebutkan adalah para pemeluk madzhab Asy’ari dan Maturidi dalam bidang teologi, apabila mereka adalah termasuk orang-orang yang ahli bid’ah dan tersesat keluar dari madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah dan termasuk kelompok yang rusak dan diancam dengan siksa api neraka yang sangat pedih, maka sangatlah celaka bagi mayoritas muslim dunia dari pasca madzahib al-arba’ah sampai sekarang yang mengikuti madzhab mayoritas sehingga mencapai sembilan sepersepuluhnya umat Islam di dunia?!

Perlu dicermati tentang hal ini, apabila mereka termasuk dalam golongan orang-orang yang tersesat dan menyesatkan, maka mata rantai ajaran Nabi Muhammad yang dibawa dan diwarisi oleh para shahabatnya mengalami keterputusan. Dan pertanyaan yang perlu dijawab putus dimanakah mata rantai ilmu atau agama itu?

Pewarisan agama yang terus berkelanjutan sampai sekarang merupakan warisan dari Nabi Muhammad yang terus disampaikan secara kontinyu dan berantai dari Nabi Muhammad Saw. para shahabat, para tabi’in dan seterusnya sampai sekarang. Dalam hal ini para pendiri ketiga sektre adalah mereka para pewaris tradisi Islam baik dalam hal idiologi atau lainnya, seperti fiqh dan tasawwuf. Mereka adalah para pengikut al-Hanafi, al-Maliki, al-Syafi’i dan al-Hanbali dalam kawasan fiqh, sehingga keterputusan mata rantai pengetahuan tidaklah mungkin dan mustahil keberadaannya. Masyhur kiranya tentang siapakah guru-guru para pendiri madzhab fiqh hingga sampai ke tangan Nabi Muhammad Saw. Jadi keterputusan sanad ilmu dari Rasulullah sampai sekarang dalam hal ini sangat tidak rasional dan arealistis.

Jelaslah sudah dan tidak bisa diragukan lagi bahwa kelompok Ahlussunnah wal Jama’ah yang telah didiskripsikan dalam rekaman sejarah Nabi Muhammad merupakan kelompok teologis yang diusung oleh Abu Hasan al-‘Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi dan Ahmad ibn Hanbal yang merupakan pengikut setia madzhab Hanbali, sebagaimana pernyataan beberapa ulama madzhab fiqh seperti ulama Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi'iyyah dan Hanabilah.

Klaim ini bisa dibuktikan dengan mayoritas para ilmuwan Islam yang menyatakan bahwa Ahlussunnah wal Jama'ah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad dalam haditsnya adalah ahlul hadits yang menjadikan sumber keyakinannya berdasar pada al-Qur'an, al-Hadits dan Ijma' para Ulama, ahli berfikir yang dalam hal ini adalah sekte Asya'irah dan Maturidiyyah dan yang ketiga adalah ahlul kasyf dan wijdan yang dalam hal ini adalah para tasawwuf.

Implikasi dari diskripsi Nabi Muhammad diatas berekses pada keberadaan seorang muslim di hari akhir kelak, sebagaimana dinyatakan Abdul Fatah ibn Shalih Qudaisy al-Yafi'i dalam kitab al-Manhajiyyah al-'Ammahnya "sesuatu yang maklum adanya bahwa kebenaran dalam ushul dan teolog adalah satu dan perbedaan dalam ushul dan akidah tidak diperbolehkan, berbeda dengan perbedaan dalam masalah parsial fikih (furu' al-fiqhiyyah) dan hukum ketika sesuai dengan batasan dan aturannya". Hal ini juga ditegaskan oleh Abu Ishaq al-Syathibi dalam al-Muwafaqatnya yang menyatakan bahwa perbedaan yang terjadi pada diri para jurism fiqh ada dasarnya semuanya benar walaupun kebenaran itu hanya ada satu.

Klaim pengakuan diri sebagai ahlussunnahpun banyak dilakukan oleh beberapa kelompok yang merupakan sempalan dari kesatuan Islam yang utuh dan besar. Dan penegasian oknom tertentu tidak bisa terelakkan dengan memaparkan pernyataan bahwa semua aliran selain alirannya adalah sesat, syirik dan kafir. Hal ini jelas tidak sesuai dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah yang tidak mudah untuk menstempel rival-rivalnya dengan label murtad, syirik, kafir dan sesat.

Kiranya sebagai umat Islam yang besar dan mengharapkan kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat, kita harus waspada dan hati-hati terhadap sekte-sekte Islam yang tidak sesuai dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, apalagi sekte-sekte baru yang sampai mengatasnamakan Islam baru atau aliran baru yang sudah jelas bahwa selain satu sekte Ahlussunnah wal Jama’ah jelas bukan kelompok yang selamat. Hal itu oleh al-Sahrastani telah tertuangkan dalam karyanya di bidang sejarah, al-Milal wa al-Nihal. Ketika sekte-sekte baru lahir kita berhak bertanya aliran yang keberapa dan menginduk pada klasifikasi mana? Sehingga kita bisa menilai apakah sekte baru, agama baru atau hanya perubahan wajah melalui operasi berbagai kecacatan dan kejelekannya atau malah makin memperparah kecacatan dan kerancuan akidah mereka?

Agama yang mendapat legitimasi atas kevaliditasannya hanya ada satu; yakni Islam dan Islam adalah agama yang hanya mengakui Allah adalah tuhannya, Muhammad Saw. adalah Rasul-Nya, al-Qur’an adalah kitab sucinya dan Ka’bah adalah kiblatnya. Dari Islam yang universal ini secara manhaji fiqh terdapat beberapa sekte yang tidak berimplikasi pada hal-hal yang prinsip dalam hal beragama. Namun, yang paling mendasar dan prinsipal adalah perpecahan sekte dalam masalah keyakinan atau akidah yang mampu menghantarkan umat manusia di akhirat kelak apakah ia akan masuk surga atau bahkan kekal untuk selamanya dalam luapan api neraka.

Baca Selanjutnya.....

17 Oktober 2009

PENGARUH TASAWUF DALAM SOSIAL DAN EKONOMI UMAT


Kajian Tasawuf (mistik, sufi, olah spiritual) berperan besar dalam menentukan arah dan dinamika kehidupan masyarakat. Kehadirannya meski sering menimbulkan kontroversi, namun kenyataan menunjukkan bahwa tasawuf memiliki pengaruh tersendiri dan layak diperhitungkan dalam upaya menuntaskan problem-problem kehidupan sosial dan ekonomi yang senantiasa berkembang mengikuti gerak dinamikanya, karena tasawuf adalah jantung dari ajaran Islam, tampa tasawuf Islam akan kehilangan ruh ajaran aslinya. Tasawuf akan membimbing seseorang dalam mengarungi kehidupan ini yang memang tidak bisa terlepas dari realitas yang tampak maupun yang tidak tampak, Untuk menjadi seseorang yang bijak dan professional di dalam menjalankan setiap peran dalam mengarungi kehidupan ini, karena selain bisa memahami realitas lahir ia juga mampu memahami realitas batin, sehinga ia mampu untuk berinteraksi dangan alam secara harmonis dan serasi, dan itulah yang diajarkan di dalam agama Islam, keharmonisan dan keserasian dengan alam semesta.


Tasawuf adalah bagian dari Syari’at Islam, yakni perwujudan dari ihsan, salah satu dari tiga kerangka ajaran Islam yang lain, yakni iman dan Islam. Oleh karena itu bagaimanapun, perilaku tasawuf harus tetap berada dalam kerangka Syari’at. Maka al-Junaid mengatakan sebagaimana dinukilkan oleh al-Qusyairi , “Kita tidak boleh tergiur terhadap orang yang diberi kekeramatan, sehingga tahu betul konsistensinya terhadap Syari’at”. Tasawuf sebagai manifestasi dari ihsan tadi, merupakan penghayatan seseorang terhadap agamanya, dan berpotensi besar untuk menawarkan pembebasan spiritual, sehingga ia mengajak manusia mengenal dirinya sendiri, dan akhirnya, mengenal Tuhannya.

Lahirnya tasawuf sebagai fenomena ajaran Islam, diawali dari ketidakpuasan terhadap praktik ajaran Islam yang cenderung formalisme dan legalisme serta banyaknya penyimpangan-penyimpangan atas nama hukum agama. Selain itu, tasawuf juga sebagai gerakan moral (kritik) terhadap ketimpangan sosial, moral, dan ekonomi yang ada di dalam umat Islam, khususnya yang dilakukan kalangan penguasa pada waktu itu. Pada saat demikian tampillah beberapa orang tokoh untuk memberikan solusi dengan ajaran tasawufnya. Solusi tasawuf terhadap formalisme dengan spiritualisasi ritual, merupakan pembenahan dan elaborasi tindakan fisik ke dalam tindakan batin. Faktor internal lainnya ialah terjadinya pertikaian politik intern umat Islam yang menyebabkan perang saudara yang dimulai antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bermula dari al-fitnah al-kubra yang menimpa khalifah ketiga, Usman bin Affan maka sebagian tokoh agama mengambil jarak dengan kehidupan politik dan sosial.

Saat ini kita berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern, atau sering pula disebut sebagai masyarakat yang sekuler. Pada umumnya, hubungan antara anggota masyarakatnya atas dasar prinsip-prinsip materialistik. Mereka merasa bebas dan lepas dari kontrol agama dan pandangan dunia metafisis. Dalam masyarakat modern yang cenderung rasionalis, sekuler dan materialis, ternyata tidak menambah kebahagiaan dan ketentraman hidupnya. Berkaitan dengan itu, Sayyid Hosein Nasr menilai bahwa akibat masyarakat modern yang mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, berada dalam wilayah pinggiran eksistensinya sendiri. Masyarakat yang demikian adalah masyarakat Barat yang telah kehilangan visi keilahian. Hal ini menimbulkan kehampaan spiritual, yang berakibat banyak dijumpai orang yang stress dan gelisah, akibat tidak mempunyai pegangan hidup.

Untuk mengantisipasi hal-hal semacam di atas, maka diperlukan Keterlibatan langsung tasawuf dalam kancah politik dan ekonomi, hal ini dapat kita lihat dalam sejarah Tarekat Sanusiyah di berbagai daerah di Afrika Utara, Dalam kiprahnya, tarekat ini tidak henti-hentinya bekerja dengan pendidikan keruhanian, disiplin tinggi, dan memajukan perniagaan yang menarik orang-orang ke dalam pahamnya. Maka Fazlur Rahman menceritakan bahwa tarekat ini menanamkan disiplin tinggi dan aktif dalam medan pejuangan hidup, baik sosial, politik, dan ekonomi. Pengikutnya dilatih menggunakan senjata dan berekonomi (berdagang dan bertani). Gerakannya pada perjuangan dan pembaharuan, dan programnya lebih berada dalam batasan positivisme moral dan kesejahteraan sosial, tidak “terkungkung” dalam batasan-batasan spiritual keakhiratan. Coraknya lebih purifikasionis dan lebih aktif, memberantas penyelewengan moral, sosial dan keagamaan, maka Fazlur Rahman menamakannya sebagai Neo-Sufisme.

Kebutuhan akan kekuatan ekonomi dan teknologi saat ini sangat diperlukan bagi penunjang keberhasilan umat Islam demi menjaga dan mengangkat martabat umat itu sendiri, kerena sudah banyak terbukti bahwa umat Islam sering dijadikan bulan-bulanan oleh orang-orang kafir karena kelemahan mereka dibidang ekonomi yang akhirnya menjadikan mereka lemah dalam bidang teknologi dan politik, hal ini adalah suatu bahaya yang wajib dihilangkan dan dijauhi oleh orang-orang yang percaya terhadap Allah dan rasulnya, seperti dalam sabda rasul:

”tidak boleh membahayakan diri sendiri atau orang lain”

kalau kita perhatikan saat ini bahaya dari terbengkalainya perekonomian sangat membahayakan umat, oleh karena itu pembenahan dalam bidang ekonomi sangat diperlukan sebagai perantara bagi umat untuk memperoleh kedamaian di Dunia dan Akhirat, dalam sebuah kaidah, ulama’ membuat sebuah kaidah di dalam menangapi berbagai perintah Allah demi memperoleh kesempurnaan dalam menjalankanya yang berbunyi: “segala bentuk perantara yang bisa menunjang kesempurnaan suatu kewajiban maka hukumnya menjadi wajib”.

Dari serangkaian paparan di atas kiranya kita bisa mengetahui bahwa perkembangan tasawuf mulai dari awal munculnya sampai pada saat ini memang dituntut untuk mengalami berbagai bentuk perubahan yang di sesuaikan dengan keadaan dan pola kebiasaan dari suatu Masyarakat, karana tasawuf ibarat makanan yang disuguhkan oleh para mursyid kepada suatu masa atau masyarakat yang berbeda-beda di setiap tempat dan waktu dan membutuhkan keahlian dan racikan yang berbeda pula, tetapi perubahan bentuk itu hanya sebatas pada bentuk luarnya saja, secara garis besar konsep dasar yang ada dalam tasawuf hanyalah satu, yaitu keyakinan, ketundukan, kepatuhan, pendekatan terhadap serta menjahui hal-hal yang bisa menganggu ibadah kepada Allah yang satu.

Baca Selanjutnya.....

MEMPERERAT UKHUWAH ISLAMIYAH


“Ukhuwah islamiyah” dua kata yang sering kita kumandangkan disetiap even-even yang menghantarkan kita untuk menyatukan sifat persaudaraan dan persatuan. Istilah yang bermakna ‘persaudaraan antar sesama kaum beriman’. Adalah sebuah Istilah yang sering diambil sebagai tema ketika para muballigh, juru da’wah, ulama dan khatib-khatib serta kita yang notabenenya sebagai mahasiswa muslim sering mendengungkan istilah tersebut ketika menyerukan agar persaudaraan antar sesama kaum beriman ditegakkan.


“Ukhuwah islamiyah” adalah sebuah resep yang paling ampuh untuk mengatasi persoalan yang sering kali terjadi dikalangan umat islam. Apalagi umat islam diseluruh muka bumi yang sering kali lalai dan lengah akan indahnya ukhuwah islamiyah. Dengan melihat didataran muka bumi dari umat islam sendiri yang masih tetap berjalan dengan jalannya masing-masing. Namun tidak dipungkiri bahwa sejalan dengan kenyataan islam adalah agama yang paling pesat dan luas menyebar diantara umat manusia dalam tataran keagamaan, persaudaraan berdasarkan iman (ukhuwah islamiyah) adalah sangat sentral, dan tentu tepat sekali jika diyakini sebagai obat mujarab berbagai penyakit umat.

Tentunya kita sebagai umat yang beriman lebih mengerti bahwa persaudaraan dalam rangka kemajemukan bukan ketunggalan. Karena pada hakikatnya sifat alamiah manusia yang berbeda-beda sesuai dengan Sunnatullah, maka hal tersebut sangatlah logis bahwa ajaran Allah tentang persaudaraan berdasarkan iman, diberikan dalam kerangka kemajemukan (pluralitas), bukan ketunggalan (monolitika). Sebab hukum perbedaan yang ditetapkan Allah untuk umat manusia itu juga berlaku pada kalangan kaum beriman sendiri. Bagaimanapun, kaum beriman terdiri dari pribadi-pribadi dengan latar belakang biografi, sosial dan budaya yang berbeda-beda. Dan persaudaraan berdasarkan iman atau Ukhuwah islamiyah dalam kerangka kemajemukan itu dengan jelas diajarkan Allah dalam suatu deretan Firman:

Jika dua kelompok dari kalangan orang-orang beriman bertikai, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu bertindak melewati batas terhadap yang lain, maka perangilah yang melewati batas itu sampai kembali kepada perintah (ajaran) Allah. Dan jika kembali, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil serta tegakkanlah kejujuran. Sesunguhnya Allah cinta kepada orang-orang menegakkan kejujuran.

Sesungguhnya orang-orang beriman itu tidak lain adalah bersaudara. Maka damaikanlah antara dua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu dirahmati.

Hai orang-orang yang beriman! janganlah ada suatu dolongan yang merendahkan golongan lain, boleh jadi mereka (yang direndahkan) itu lebih baik daripada mereka (yang merendahkan). Juga janganlah ada suatu golongan wanita (yang merendahkan) golongan wanita lain, boleh jadi mereka (yang direndahkan) itu lebih baik daripada mereka (yang merendahkan). Jangan pula kamu sekalian saling mencela, dan saling memangil sesamamu dengan panggilan-pangilan (yang tidak baik). Seburuk-buruknya nama ialah (nama) kefasikan (yang diberikan kepada orang lain) setelah iman. Barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Hai orang-orang yang beriman! jauhilah banyak perasangka! Sebab sesungguhnya sebagian dari perasangka itu adalah jahat. Dan janganlah kamu mengintai-intai (mencari-cari kesalahan orang lain), jangan pula sebagian dari kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah suka seseorang dari kamu memakan daging saudaranya dalam keadaan mati (menjadi mayat), sehingga kamu jijik kepadanya?! Bertakwalah kepada Allah! Sesunguhnya Allah itu Maha Pemberi taubat (ampunan) dan Maha Penyayang.

Hai sekalian umat manusia! Sesungguhnya kami telah ciptakan kamu sekalian dari lelaki dan perempuan, kemudian kami jadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar supaya kamu saling mengenal sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

(Q, s. Al-Hujuraat/49:9-13)

Itulah deretan Firman suci yang harus kita fahami berkenaan dengan ajaran tentang persaudaraan berdasarkan iman atau ukhuwah islamiyah. Selain menegaskan prinsip bahwa kaum beriman itu bersaudara, deretan suci itu juga memberi petunjuk konkrit dan praktis tentang bagaimana memelihara persaudaraan dikalangan kaum beriman sehingga terciptalah jalinan ukhuwah islamiyah yang kokoh. Tentunya dengan sederetan firman Allah diatas kita dapat mengambil beberapa hal yang amat sangat penting untuk kita perhatikan dalam kehidupan guna mencari solusi dalam merajut ukhuwah islamiyah. Disini penulis mencoba mengambil point-point yang terkandung dari beberapa ayat diatas yang berkaitan dengan ukhuwah islamiyah. Ialah Bahwa semua orang yang beriman adalah saudara satu dengan lainnya. Namun kaum beriman itu tidaklah semuanya sama dalam segala hal.

Adanya perbedaan mungkin saja menimbulkan pertikaian, yang harus selalu diusahakan perdamaiannya. Perdamaian antara dua kelompok yang bertikai itu adalah dalam rangka taqwa kepada Allah. Dan dengan taqwa itu Allah akan menganugerahkan rahmat-Nya yang mendasari jiwa persaudaraan. Maka harus ada sikap saling menghormati, dengan tidak merendahkan suatu golongan lain. Setiap golongan harus cukup rendah hati untuk mengakui kemungkinan diri mereka salah, dan golongan lain benar. Sejalan dengan itu dilarang saling menghina sesama kaum beriman. Juga dilarang memberi nama ejekan satu sama lain, apalagi ejekan kejahatan. Yang tidak mengikuti itu semua adalah orang-orang zalim. Kaum beriman harus menjauhkan banyak prasangka, karena itu bisa jahat. Juga dilarang saling mencari kesalahan. Dan dilarang pula melakukan pengumpatan (ghibah, back bitting), yaitu membicarakan keburukakan sesama ketika yang dibicarakan itu tidak ada ditempat pembicaraan. Melakukakn ghibah itu adalah bagaikan memakan daging mayat saudara sendiri, sebab orang yang dibicarakan keburukannya itu, karena tidak ditempat, tidak dapat membela diri, apalagi melawan. Jadi ghibah adalah kejahatan ganda, suatu kejahatan diatas kejahatan. Sekali lagi kita kaum beriman diseru untuk selalu bertakwa kepada Allah, yaitu menyadari akan adanya pengawasan Allah yang selalu hadir dimanapun kita berada, sehingga tidak sepatutnyalah seorang yang beriman melakukan sesuatu yang tidak diperkenankan oleh-Nya. Taqwa kepada Allah menghasilkan bimbingan kearah budi pekerti yang luhur, maka Allah akan mengampuni kita dan memberi rahmat-Nya kepada kita. Lebih lanjut, kita diingatkan bahwa seluruh umat manusia pun diciptakan Allah berbeda-beda, karena dijadikan oleh-Nya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Itu semua tidak lain ialah agar kita saling kenal dengan sikap saling menghormati (arti luas dari kata bahasa Ta’aruf.

Kita tidak boleh membagi manusia menjadi ‘tinggi-rendah’ karena pertimbangan-pertimbangan kenisbatan, seperti kebangsaan, kesukuan, dan lain-lain. Sebab dalam pandangan Allah, manusia tinggi dan rendah hanyalah berdasarkan tingkat ketaqwaan yang telah diperolehnya. Manusia tidak akan mengetahuai dan tidak diperkenankan menilai atau mengukur tingkat ketaqwaan sesamanya. Allah yang Maha Tahu dan Maha Teliti.

Baca Selanjutnya.....

13 Oktober 2009

TAWADHU : PUNCAK PRESTASI HIDUP


ALLAH SWT adalah dzat yang Mahabesar dan hanya Dia-lah yang berhak menyatakan kebesaran Diri-Nya. Adapun segenap makhluk ciptaan-Nya adalah teramat kecil dan sama sekali tidak layak merasa diri besar. Seorang hamba yang lisannya berucap, "Allaahu Akbar!" serasa jiwanya bergetar karena sadar akan kemahabesaran-Nya, dialah orang yang menyadari kekerdilan dirinya di hadapan Dzat yang serba Maha.

Sungguh, Allah sangat suka terhadap orang yang merendahkan diri di hadapan-Nya, sehingga diangkatlah derajat kemuliannya ke tingkat yang sangat tinggi di hadapan semua makhluk, apalagi di hadapan-Nya. "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk" (QS. Al-Bayyinah: 7).

Sebaliknya betapa Allah sangat murka terhadap orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi. Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (QS. An-Nisa: 36). Syurga pun mengharamkan dirinya untuk dimasuki oleh orang-orang yang di dalam kalbunya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar debu.

Segenap makhluk yang ada di alam semesta ini tiada memiliki daya dan upaya, kecuali karena karunia kekuatan dari Allah SWT? Laa haula walla quwwata illa billaah! yang menciptakan tubuh ini pun Allah. Yang mengalirkan darah dalam peredaran yang sempurna, yang mendetakkan jantung, pendek kata yang mengurus sekujur badan ini pun hanya Allah semata! Manusia sama sekali tidak berdaya sekiranya Allah menghendaki sesuatu atas jiwa dan raga ini.

Karena itu, Allah SWT mengancam manusia yang melupakan hakikat dirinya. "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi ini tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku" (QS. Al-A'raf: 146). Dalam ayat lain disebutkan, "Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang" (QS. Al-Mu'min: 35).

Ternyata rahasia hidup sukses atau sebaliknya hidup terhina dan tiada harga, tidak terlepas dari seberapa mampu seseorang menempatkan dirinya sendiri di hadapan Allah SWT. Tawadhu, inilah kunci bagi siapa saja yang ingin memiliki pribadi unggul.

Seseorang niscaya akan lebih cepat maju manakala mempunyai sifat tawadhu dan tidak sombong. Mengapa demikian? Kunci terpenting untuk sukses adalah adanya kesanggupan menyerap ilmu dan meluaskan visi, kemampuan mendengar dan menimba ilmu dari orang lain. Hal ini akan membuat kita semakin cepat melesat dibandingkan dengan orang-orang yang sombong, merasa pandai sendiri, mengganggap cukup dengan ilmu yang dimilikinya, sehingga merasa diri tidak lagi membutuhkan pendapat, pandangan, dan visi dari orang lain.

Ketahuilah, kita ini adalah makhluk yang serba terbatas. Buktinya, kita tidak bisa melihat kotoran di mata atau hidung sendiri. Artinya, kita membutuhkan cermin dan alat bantu lainnya agar bisa menguji semua yang kita miliki ataupun melengkapi sesuatu yang belum kita miliki.

Islam mengajarkan kita agar tidak sombong. Kita harus berani mendengarkan segala sesuatu dari orang lain. Kita tidak dilarang untuk punya pendapat, tetapi orang lain pun tidak salah jika memiliki pendapat berbeda. Kita harus bersedia mendengarkannya, paling tidak untuk menguji pendapat kita apakah bisa dipertahankan atau tidak. Atau, bahkan untuk melengkapi pendapat kita, sehingga semakin bermutu.

Karenanya, berhati-hatilah dengan segala yang berbau kesombongan, merasa diri hebat, pemborong syurga, paling benar, paling mampu. Semua itu hanya akan mengurangi kemampuan yang ada pada diri kita. Sesungguhnya kesombongan itu akan menutup hal yang sangat fitrah dari diri manusia yaitu kemampuan melengkapi diri.

Kita harus menjadi orang yang tamak terhadap ilmu, serakah terhadap pengalaman dan wawasan. Tiap bertemu dengan orang, lihatlah kelebihannya, simaklah kemampuannya, lalu ambillah kelebihannya itu. Tentu ini tidak akan menjadikan orang tersebut bangkrut dan tidak memiliki kelebihan lagi. Sebaliknya, kemampuan orang yang kita mintai ilmunya akan semakin berkembang selain kita pun akan semakin maju.

Tidak mungkin kita ditakdirkan bertemu dengan seseorang, kecuali pasti akan menjadi ilmu dan pengalaman baru, sekiranya diri kita dilengkapi dengan hati yang bersih. Tentu yang bisa menjadi ilmu itu tidak sekedar hal-hal yang menyenangkan saja. Aneka pengalaman yang tidak menyenangkan, seperti penghinaan, kritik atau cemoohan, semua ini tetap menjadi ilmu yang akan meningkatkan wawasan, kemampuan, karakter, mental ataupun keunggulan-keunggulan lain yang bakatnya sudah kita miliki.

Adapun hal yang sangat utama dan paling menentukan bobot dari semua perilaku dan kiprah kita dalam meningkatkan kualitas dan keunggulan diri adalah hati yang bersih. Kedongkolan, kemangkelan, kejengkelan, kebencian, dan semua hal yang bisa membuat tidak nyamannya hati, jelas-jelas merupakan sikap kejiwaan yang kontraproduktif.

Kita akan banyak kehilangan waktu karena kotor hati. Kalau kita termasuk tipe pemarah serta gemar memuaskan hawa nafsu dan kedendaman, maka kita akan kehilangan waktu untuk kreatif dan produktif. Akan tetapi, sekiranya hati kita bersih dan sejuk, maka kendatipun hantaman masalah dan kesulitan datang bertubi-tubi, niscaya kita akan seperti intan yang tiada pernah hilang kilauannya sepanjang masa. Bukankah intan itu tidak akan pernah hancur wujudnya dan berkurang kilauannya kendati dihantam dengan batu bata secara bertubi-tubi, bahkan dia sendiri yang akan hancur? Kesejukan, kebersihan, dan ketentraman hati, tidak bisa tidak, akan mempengaruhi pikiran ini menjadi lebih lebih bermanfaat dan bermakna.

Tampaknya umat Islam akan bangkit bila mampu bersinergis, saling membantu satu sama lain. Kuncinya adalah bebasnya hati dari kedengkian, dan kebusukan. Kita harus belajar senang melihat orang lain maju. Kita pun harus belajar ikut bersyukur melihat kesuksesan dan prestasi orang lain seraya membuat kita terbakar untuk bisa lebih maju lagi. Wallahu a'lam.

Baca Selanjutnya.....

Posting terbbaru

Terpopuler


KATA MUTIARA



Semakin Anda memahami lebih banyak tentang dunia di sekitar Anda, semakin bergairah dan penasaran terhadap kenyataan hidup dalam hidup Anda.
...Baca Selanjurnya...




MANUSIA TERBAIK


Ridho Alloh SWT selalu diberikan kepada mereka yang ber-mujahadah (Bersungguh-sungguh). Kesungguhan itu selalu membawa dampak didalam diri seseorang seperti meningkatnya kualitas hidup.
...Baca Selanjurnya...





ORANG MISKIN MEMASUKKAN SURGA ORANG MAJUSI


Alkisah, di negeri Arab ada seorang janda miskin yang mempunyai anak. Karena anaknya menangis kelaparan, janda itu terpaksa harus meninggalkan rumahnya untuk berkelana mencari uang. Di depan sebuah masjid
...Baca Selanjurnya...




ENAKNYA JADI ORANG GILA


Sungguh enak jadi orang gila
Dunianya serba bahagia
Dimana materi tak berharga
Kesenangan spiritual apa adanya
...Baca Selanjurnya...





LINTAS BERITA

LIPUTAN 6 SCTV

BERITA TERBARU

KOMENTAR

Bannere temen

  © Blogger templates The Professional Template by Kang Anwar 2009

Back to TOP