TERBARU :
السلام عليكم ورحمة الله تعالى وبركاته# بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه التصوف الإسلامي هو مقام الإحسان الذي قال عنه رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراكِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيَّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةٍ تُنْجِينَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الْمِحَنِ وَالإِحَنِ وَالأَهْوَالِ وَالْبَلِيَّاتِ وَتُسَلِّمُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الْفِتَنِ وَالأَسْقَامِ وَالآفَاتِ وَالْعَاهَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الْعُيُوبِ وَالسَّيِّئَاتِ وَالآفَاتِ وَالْعَاهَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعَ الْخَطِيئَاتِ وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ مَا نَطْلُبُهُ مِنَ الْحَاجَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ يَا رَبِّ يَا الله يَا مُجِيبَ الدَّعَوَاتِ.... " اهـ . [ من صلوات العارف الرباني الإمام الغوث الصمداني عبد القادر الجيلاني - رضي الله تعالى عنه، في كتاب " أفضل الصلوات على سيد السادات" للعارف الرباني القاضي يوسف النبهاني - رضي الله تعالى عنه و عـلـيـكـم الـســلام و رحـمـة الله تـعـالـى و بـركـاتـه

HAKIKAT SYUKUR

01 Maret 2011


Syukur secara lughowi dari kata syakaro – yaskuru yang berarti berterima kasih. Adapun penjelasan lain bahwa syukur adalah ketika kita memberi (membalas) atas pemberian orang lain kepada kita dengan memberikan lebih daripada pemberian orang lain tersebut. Sebagai gambaran sederhana, misalnya unta adalah binatang yang bisa berjalan jauh walaupun diberi minum hanya sedikit saja, diberi sedikit tapi bisa memberi manfaat yang banyak , maka unta itu disebut sebagai syakaratin naqoh (unta yang bersyukur/berterima kasih). Atau juga seperti pohon kurma walaupun pohon itu tumbuh di gurun pasir dan hanya sedikit mendapatkan air, tapi bisa memberikan buah yang banyak, daun dan pohonnya pun berguna bagi keperluan manusia lainnya maka pohon kurma itu disebut juga syakaratis syajarah (pohon yang bersyukur/berterima kasih).

Allah SWT, di dalam Al-Quran mempunyai nama As-Syakur, karena dengan As-Syakur ini, Allah SWT senantiasa memberikan limpahan rahmat dan karunia kepada seorang hamba walaupun hamba-Nya sedikit dalam beribadah ataupun tidak beribadah sama sekali.

Oleh karena itu, syukur merupaka tingkatan paling tinggi dari seorang hamba, bahkan syukur ini bukan hanya berlaku di dunia saja tapi sampai ke dalam syurga, berbeda dengan sabar, sabar berlaku di dunia saat di alam kubur (penantian), di alam mahsyar , saat meniti shirat tapi tidak sampai masuk ke dalam syurga. Karena di dalam syurga sudah tidak akan ada lagi sabar dalam menghadapi mushibah, tidak akan menemukan lagi sabar menghindari maksiat dan sabar dalam taat, yang ada hanya rasa syukurnya seorang hamba telah mendapatkan maghfirah dan karunia Allah SWT di dalam syurga itu. Bahkan syukur merupakan nafas dari para ahli syurga. Sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran: “da’waahum fiiha subhaanaka allohumma watahiyyatun fiiha salaamun wa akhiru da’wahum fiiha anilhamdulillahi rabbil’aalamiin” (do`a mereka di dalam syurga adalah subhaanaka allohumma dan penghormatan mereka adalah salaamun dan akhir dari do`a mereka adalah alhamdulillahirabbil’alamiin).

Digambarkan pula ketika sayyidah Aisyah r.a mendapati Nabi Saw tengah malam dengan kaki beliau yang bengkak-bengkak dikarenakan lamanya berdiri saat melaksanakan shalat malam, lalu sayyidah Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah, mengapakah engkau sampai berpayah-payah dalam melaksanakan ibadah? bukankah engkau adalah seorang yang sudah dapat jaminan Allah SWT bahwa dosamu yang lalu dan yang akan datang telah diampuni?” lalu Nabi SAW menjawab: “oleh karena aku sudah dapat jaminan itu, maka tidak pantaskah aku menjadi hamba yang bersyukur?”

Sahabat, rasa syukur memang sulit dicapai kecuali dengan pertolongan dari Allah SWT. Seperti yang pernah Rasulullah SAW sampaikan kepada sahabat mu’adz bahwa: rasa syukur itu harus dipinta di dalam do`a terutama disetiap akhir shalat fardlu dengan do`a: “Allohumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadaatika.” ( Yaa Alloh, berikanlah pertolongan-Mu kepadaku dalam dzikirku pada-Mu (menjadi ahli dzikir.red) dan atas rasa syukurku pada-Mu dan baguskanlah ibadahku pada-Mu.)

Ibnu Qayyim rahimakumullah menyatakan bahwa setidaknya harus ada 4 pilar supaya seorang hamba mencapai sifat syukur :

1. Sadar bahwa nikmat itu semuanya mutlaq dari Allah SWT,

Sahabat, pernahkah kita menghitung nikmat? Nah, itulah kita (manusia) yang jangankan untuk mensyukuri nikmat, menyadari akan adanya nikmat apalagi menghitungnya sepertinya sangat jarang kita lakukan.

Contoh sederhananya ketika kita makan, apakah kita benar-benar sadar akan nikmat dari makanan sepiring nasi? Lalu pernahkah kita mentafakuri (memikirkan) bagaimana caranya Alloh SWT menyampaikan nikmat sepiring nasi itu kepada kita? Subhanallah, apabila sejenak saja kita berfikir akan nikmat ini insya Allah kita akan tersungkur dan menyatakan syukur kita kepada Allah SWT. Misalnya dari tiap butir nasi yang kita makan, kita tidak tahu siapa yang menyemai benihnya, siapa yang menanamnya, siapa yang memanennya, siapa yang mengolah padi jadi beras, siapa yang membawanya. Jadi, dari sebutir nasi yang sampai pada kita, tersusun rangkaian nikmat-nikmat Allah yang memudahkan kita untuk menikmatinya. Belum lagi nikmat tangan kita untuk menyuapkan nasi ke mulut, nikmat mulut, gigi, lidah, tenggorokan, usus, lambung sampai pada nikmat mengeluarkan kotorannya itu semua harusnya menjadikan diri kita lebih bisa merasakan dan menyadari akan nikmat Allah SWT ini. Kesadaran akan nikmat Allah yang begitu banyak, begitu besar tercurah kepada kita dimulai dari helaan nafas, kedip mata, degup jantung aliran darah dan lain sebagainya, akan menumbuhkan rasa berutang budi dan bergantung hanya pada Allah SWT Sang pemberi nikmat.

2. Memuji kepada Sang Pemberi nikmat. Memuji kepada Allah SWT Sang pemberi nikmat ini merupakan pilar berikutnya, sebagai ungkapan hati yang bersyukur. Karena memang hakikat dari semua pujian itu sebenarnya bermuara kepada Allah SWT.

Para ulama menyebutkan bahwa pujian itu ada 4 :

1.Pujian kholiq pada kholiq (Allah pada dirinya sendiri) seperti halnya Allah menyatakan pujian ini dalam Al-Quran misalkan dengan ayat “Alhamdulillahirabbil’alamin” (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam)

2. Pujian kholiq kepada makhluk-Nya, termaktub dalam QS. Al-Qalam [68]: 4 “Wainnaka la’alaa khuluqin ‘azhiim” (Dan sesungguhnya engkau {Muhammad} benar-benar berbudi pekerti yang luhur.)

3. Pujian makhluk pada Kholiqnya (Allah), sebagai mana yang diungkapkan kita apabila mendapatkan limpahan karunia dengan mengucapkan terima kasih pada Allah atau dengan mengucapkan hamdalah dengan tulus.

4. Pujian makhluk kepada makhluk, apabila kita memuji seseorang baik dari postur tubuh atau prestasinya, namun sebenarnya kita itu sedang memuji akan karya Allah SWT. Jadi hakikatnya pujian itu semuanya kembali pada Allah SWT.

3. Menggunakan nikmat untuk taat kepada Pemberi nikmat

Sahabat, disaat kita mencurahkan hati, pikiran, tenaga, harta, waktu dan segala fasilitas yang kita miliki untuk taat pada Allah, itulah yang disebut bersyukur.

4. Mencintai Sang Pemberi nikmat

Sahabat, disaat kita berbuat baik terhadap kedua orang tua kita, yang terbersit dalam hati bahwa kebaikan yang kita sampaikan pada mereka ini merupakan bukti cinta kita terhadap mereka. Karena dari semenjak kita dikandung ibu, masa kanak-kanak sampai dewasa setiap harinya tidak terlepas dari kebaikan mereka.

Nah seharusnya rasa cinta seperti ini lebih besar kita sampaikan kepada Allah SWT, karena orang tua berbuat baik pada kita juga itu sebenarnya Allah yang menggerakkannya. Apapun yang orang tua berikan pada kita itu juga nikmat Allah yang disampaikan melalui mereka.

Subhaanallah. Semoga bermanfa'at. amin
by.:kanganwar.blogspot.com
sumber dari :

Share this Article on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 

© Copyright Media Kang Anwar 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.